26/10/2016
Teori
C. Teori Pembelajaran Menurut Ki Hajar Dewantara
1. Teori Konsep Pembelajaran
Pahlawan dan sebagai
Pendidik asli Indonesia,Ki Hajar Dewantara melihat manusia lebih pada sisi
kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta,
karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua
daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya
saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau
mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya
akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.
Para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Oleh karena itu, nama
Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan,
keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang
memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah
sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara
antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai
pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah
berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa
keselamatan.
Semboyan dalam
pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal
dari ungkapan aslinya Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri
Handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam
masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri
handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan
arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus
menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang
pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).
Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar
3 dinding. Yang dimaksud belajar dengan 3 dinding bukanlah belajar dikelas
dengan jumlah dinding 3 buah ( salah satu dari 4 sisi dinding tidak ada ),
tetapi konsep tersebut mencerminkan tidak ada batas atau jarak antara di dalam
kelas dengan realita di luar. Belajar bukan sekedar teori dan praktek
disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia
menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu diharapkan para guru
mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak
sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia
kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan
sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah.
Seperti plpg ada jabatan
dan peraturan-peraturan
-pengetahuan peserta
didik
-evaluasi
-Pelatihan
-inovasi pembelajran
-Penelitian tindakan
kelas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar