Proses pengelolaan kegiatan seni
-Pengubahaan(mengomunikasikan
ide).
Pengubahaan juga dapat diartikan sebagai
merakit,menyambung,mengintalasi(manusia tidak dapat menciptakan,hanya tuhan
yang dapat menciptakan)pengubahan dapat di lakukan dengan ide nya yang sama
tapi keluarnya tidak sama,namun sebaliknya dimana idenya berbeda tapi keluarnya
sama.ini sama saja namun hanya beda pandangan nya tapi tidak semua orang bisa
mengubah.dimana disini ada hubungan nya Antara pengubah dengan karya,dengan
penikmat dan kritikus,adapula pengubah dengan karya langsung dengan kritikus.
-Penikmatan (pameran,tijauan,pertukan apresiasi,diskusi,seminar)
Apresiasi seni ialah suatu proses penghayatan karya seni
yang diamati dan penghargaan pada karya seni itu sendiri serta penghargaan pada
penciptanya. Dari sudut pandang bahasa, kata apresiasi (appreciation)
dengan kata kerja to appreciate, artinya berarti menentukan atau
menunjukkan nilai atau menilai, menilai bobot karya, menikmati dan akhirnya
menghayati. Secara umum apresiasi dapat diartikan sebagai kesadaran menilai
lewat penghayatan suatu karya.
Penghayatan dalam proses apresiasi harus dilakukan secara
obyektif (tanpa prasangka). Mutu hasil sebuah apresiasi tergantung dari
pengalaman dan intensitas kita dan pergulatan kita di dalam menghayati karya
seni di banyak ivent dan ragam karya yang pernah kita lihat. Artinya makin
sering kita melihat karya-karya seni (tertentu), maka pengalaman artistik dan
estetik kita makin panjang dan wawasan kita makin bertambah, sehingga mutu
apresiasi kita juga makin baik.
Oleh karena itu selain cara pandang antara pencipta seni
dengan apresiator juga memiliki perbedaan, juga antara apresiator yang satu
dengan yang lain juga punya penilaian yang berbeda karena pengalaman dan wawasannya
juga berbeda.
-Penilaian(kritik
seni)
Kritik karya seni memiliki perbedaan
tujuan dan kualitas. Karena perbedaan tersebut, maka dijumpai beberapa jenis
karya seni seperti yang disampaikan oleh Feldman (1967) yaitu kritik populer
(popular criticism), kritik jurnalis (journalistic criticism), kritik keilmuan
(scholarly criticism). dan kritik pendidikan (pedagogical criticism). Pemahaman
terhadap keempat tipe kritik seni dapat mengantar nalar kita untuk menentukan
pola pikir dalam melakukan kritik seni. Setiap tipe mempunyai ciri (kriteria),
media (alat : bahasa), cara (metoda), sudut pandang, sasaran, dan materi yang
tidak sama
Dalam kritik seni sesungguhnya tedapat tiga asumsi terpenting, yakni:1) Kritik sebagai aktivitas apresiasi seni
2) Kritik sebagai aktivitas penghakiman
3) Kritik sebagai aktivitas seni tersendiri
Dalam eksistensi kritik seni seperti yang diuraikan di atas, tampak peran kritik sangat vital menentukan perkembangan seni ditengah masyarakat, baik untuk seni tari, seni music, seni sastra, seni teater dan film, maupun untuk seni rupa.
Alat Kritik Seni
Tingkat kepakaran seorang kritikus
menurut keahlian dan persyaratan tersendiri, sehingga bobot penilaian yang
dilakukannya cukup meyakinkan bagi para pembaca.
Bekal atau perlengkapan yang harus
dimiliki kritikus seni sehingga penilaiannya berbeda dengan orang kebanyakan,
sebagai berikut:
1)
Seorang kritikus harus mempunyai cita rasa seni yang terbuka, artinya mempunyai
kapasitas mengahargai kreativitas artistic yang sangat beragam.
Mengapresiasikan dengan baik karaya seni yang eksis di berbagai tpat dan zaman.
2)
Seorang kritikus memerlukan studi formal di lembaga tinggi kesenian, khususnya
tentang sejarah kesenian dan sejarah kebudayaan.
3)
Seorang kritikus harus berpengalaman mengamati dan menghayati seni secara
orisinal, baik di studio, gedung pertunjukan, sanggar, maupun di museum.
Pengalaman otentik ini diperlukan, sebab sukar dan mustahil mendapat pengalaman
otentik dari slide, buku atau reproduksi karya seni belaka.
4)
Seorang kritikus harus mampu secara imajinatif merekapitulasi faktor teknik
karya seni, sehingga mengetahui bagaimana proses pembuatan karya yang menjadi
objek kritiknya.
5)
Seorang kritikus perlu mengetahui benar peristilahan seni, style seni, fungsi
seni, opini penting para seniman dan pakar estetika secara periodic, disamping
memahami konteks sosial dan kebudayaan yang melatar belakangi kreasi seorang
seniman.
6)
Seorang kritikus harus paham betul pebedaan antara niat artistic dengan hasil
atau penyampaian artistic, sehingga dia mampu meluhat senjangan antar keduanya.
Niat, amanat, pernyataan, atau nilai yang ingin dekspresikan seniman tidak
selalu persis terungkap dalam hasil kreasi seninya.
7)
Seorang kritikus harus mampu melawan bias atau simpati terhadap karya seniman
tersebut yang dikenalnya secara pribadi. Sebaliknya, mampu pula secara ojektif
dan penuh kearifan mengakuo keunggulan seorang seniman, meskipun seniman
tersebut berbeda pendapat. Dengan kata lain perbedaan pendapat tidak
mempengaruhi penilaian objektif seorang kritikus.
8)
Seorang kritikus harus harus memiliki kesadaran kritis. Hal ini berkaitan
dengan karya seni yang berbeda itu. Sikap netral dan demokratis adalah basis
kearifan penilaina seni.
9)
Seorang kritikus seni profesional harus memiliki temperamen judisial, dalam
praktiknya ini berarti kemampuan menilai seni dengan cara yang tidak
tergesa-gesa. Aktivitas menilai seni memerlukan bukti dan kesaksian akurat.
Diperlukan waktu untuk mencerap berbagai kesan, asosiasi, sensasi, yang
diberikan karya seni. Hal ini diperlukan agar kritikus dapat secara hati-hati
dan cermat menganalisis dan manafsirkan nilai kerya seni dengan bujaksana dan
cerdas.
-karakteristik kegiatan seni
*seni rupa (dimana ini sifat karya
nya pribadi,namun pada jaman modern ini banyak yang bersifat universal)
*seni music (dalam kegiatan karya
ini bersifat universal karna bnyak mengantung unsur pembantu)
*seni tari(ini bersifat karya nya
universal sama dengan seni music)
*seni sastra(besifat karya nya
universal sama dengn seni musik)
*seni teater(bersifat karya nya
universal sama dengn seni musik)
sumber:
http://sen1budaya.blogspot.com/2012/09/kritik-seni.html
diksi rupa karya mike susanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar