15/11/2016
Perkembangan seni rupa anak –anak
Gambar merupakan bahasa rupa dan
bahasa lisan dan tulis
Perkembangan Peserta Didik
- Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
Anak Sekolah Dasar (SD) berusia
sekitar 6 – 12 tahun sebagai masa sekolah, perlu didukung oleh
guru agar masa peka ini dapat dimanfaatkan
secara maksimal oleh para siswa . Tahap-tahap
perkembangan menggambar/seni rupa secara garis besar
dapat dibedakan dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan
kelas III ditandai dengan kuatnya daya
fantasi-imajinasi, sedangkan kelas IV sampai dengan kelas VI
ditandai dengan mulai berfungsinya kekuatan rasio.
Ada dua cara untuk memahami
perkembangan seni rupa anak-anak. Pertama, mengkaji
teori-teori yang berkaitan dengan perkembangan
senirupa anak menurut para ahli. Kedua, mengamati dan mengkaji
karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya
anak berdasarkan rentang usia yang relevan dengan
teori yang telah kita pelajari. Melalui
kegiatan ini, diharapkan kita bisa memahami
perkembangan seni rupa anak secara komprehensif.
- Periodisasi Perkembangan Seni Rupa anak-anak
Pembagian
masa/periodisasi dimaksudkan untuk lebih mengenal
karya seni rupa anak dalam hal melakukan
kegiatan dan penilaian. Pada umumnya semua
periodisai yang dikemukakan oleh para ahli memiliki
kesamaan, misalnya dimulai dari dua tahun.
Periodisasi masa
perkembangan seni rupa anak menurut Viktor Lowenfeld dan
Lambert Brittain dalam: Creative and Mental Growth
adalah
(1) Masa mencoreng
(scribbling)
: 2-4 tahun
(2) Masa Prabagan
(preschematic)
: 4-7 tahun
(3) Masa Bagan (schematic
period)
: 7-9 tahun
(4) Masa Realisme Awal
(Dawning Realism)
: 9-12 tahun
(5) Masa Naturalisme Semu (Pseudo
Naturalistic) : 12-14 tahun
(6) Masa Penentuan (Period of
Decision)
: 14-17 tahun.
Penjelasan periodisasi perkembangan
seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
- Masa Mencoreng (scribbling) : 2-4 tahun
Goresan-goresan yang
dibuat anak usia 2-3 tahun belum
menggambarkan suatu bentuk objek. Pada
awalnya, coretan hanya mengikuti perkembangan
gerak motorik. Biasanya, tahap pertama hanya
mampu menghasilkan goresan terbatas, dengan arah vertikal
atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan
motorik anak yang masih mengunakan motorik
kasar. Kemudian, pada perekembangan berikutnya penggambaran
garis mulai beragam dengan arah yang bervariasi
pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar.
Periode ini terbagi ke
dalam tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan
terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri gambar yang dihasilkan
anak pada tahap corengan tak beraturan adalah bentuk
gembar yang sembarang, mencoreng tanpa
melihat ke kertas, belum dapat membuat corengan berupa
lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
Corengan terkendali ditandai
dengan kemampuan anak menemukan kendali
visualnya terhadap coretan yang dibuatnya.
Hal ini tercipta dengan telah adanya
kerjasama antara koordiani antara perkembangan
visual dengan perkembamngan motorik. Hal ini
terbukti dengan adanya pengulangan coretan
garis baik yang horizontal , vertical, lengkung , bahkan
lingkaran.
Corengan bernama
merupakan tahap akhir masa coreng moreng.
Biasanya terjadi menjelang usia 3-4 tahun,
sejalan dengan perkembangan bahasanya anak
mulai mengontrol goresannya bahkan telah
memberinya nama, misalnya: “rumah”, “mobil”,
“kuda”. Hal ini dapat digunakan oleh
orang tua atau guru pada jenjang pendidikan
usia dini (TK) dalam membangkitkan
keberanianan anak untuk mengemukakan kata-kata
tertentu atau pendapat tertentu berdasarkan
hal yang digambarkannya.
- Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun
Kecenderungan umum
pada tahap ini, objek yang
digambarkan anak biasanya berupa gambar kepala-berkaki.
Sebuah lingkaran yang menggambarkan kepala kemudian pada
bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.
Ciri-ciri yang menarik lainnya pada tahap
ini yaitu telah menggunakan bentuk-bentuk dasar
geometris untuk memberi kesan objek dari
dunia sekitarnya. Koordinasi tangan lebih
berkembang. Aspek warna belum ada hubungan
tertentu dengan objek, orang bisa saja
berwarna biru, merah, coklat atau warna
lain yang disenanginya.
Penempatan dan ukuran
objek bersifat subjektif, didasarkan kepada
kepentingannya. Ini dinamakan dengan “perspektif batin”.
Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
- Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun
Konsep bentuk mulai tampak lebih
jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar
masih tetap berkesan datar dan berputar
atau rebah (tampak pada penggambaran pohon di kiri kanan
jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian kiri
rebah ke kiri, bagian kanan rebah ke
kanan). Pada perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan
dibuatnya garis pijak (base line).
Penafsiran ruang
bersifat subjektif, tampak pada gambar
“tembus pandang” (contoh: digambarkan orang makan
di ruangan, seakan-akan dinding terbuat dari
kaca). Gejala ini disebut dengan
idioplastis (gambar terawang, tembus pandang).
Misalnya gambar sebuah rumahyang seolah-olah
terbuat dari kaca bening, hingga seluruh isi di dalam
rumah kelihatan dengan jelas.
- Masa Realisme Awal (Dawning Realism) : 9-12 tahun
Pada periode
Realisme Awal, karya anak lebih menyerupai
kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan
sendiri. Mereka menyatukan objek dalam lingkungan. Perhatian
kepada objek sudah mulai rinci. Namun
demikian, dalam menggambarkan objek, proporsi
(perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pemahaman
warna sudah mulai disadari. Penguasan konsep ruang
mulai dikenalnya sehingga letak objek tidak lagi
bertumpu pada garis dasar, melainkan pada
bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis
horizon. Selain dikenalnya warna dan ruang,
penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai
dikenal pada periode ini.
Ada perbedaan
kesenangan umum, misalnya: anak laki-laki
lebih senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka
atau bunga.
- Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada masa
naturalisme semu, kemampuan berfikir abstrak
serta kesadaran sosialnya makin berkembang.
Perhatian kepada seni mulai kritis, bahkan
terhadap karyanya sendiri. Pengamatan kepada
objek lebih rinci.
- Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Pada periode ini
tumbuh kesadaran akan kemampuan diri.
Perbedaan tipe individual makin tampak. Anak
yang berbakat cenderung akan melanjutkan
kegiatannya dengan rasa senang, tetapi yang
merasa tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan
seni rupa, apalagi tanpa bimbingan. Dalam
hal ini peranan guru banyak menentukan, terutama dalam
meyakinkan bahwa keterlibatan manusia dengan seni
akan berlangsung terus dalam kehidupan.
Seni bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua
orang dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam
kehidupannya sehari-hari
HASIL ANALISIS GAMBAR SISWA SEKOLAH
DASAR
Berdasarkan hasil karya gambar anak
SD yang telah saya kumpulkan memiliki karakteristik yang berbeda-beda hal ini
dapat tema, ciri-ciri, dan teknik dalam menggambar. Pada gambar-gambar tersebut
ada beberapa tema yang digunakan yaitu tema lingkungan sekitar, pemandangan
alam, dan bertemakan bebas. Pada gambar halaman 2,3,4,5,9,10,12,13,14,18,19,
bertema lingkungan sekitar, dalam hal ini kemungkinan mereka mengamatinya dalam
kehidupan sehari-hari dan mereka juga peka terhadap lingkungan disekitarnya.
Pada halaman 1,6,7,8,11,16,17,21,26,27,28,29,30 bertema pemandangan alam,
kemungkinan berasal dari pengalaman mereka saat bertamasya dan metode mencontoh
dari guru SD. Sedangkan pada halaman 15,20,22,23,24,25 bertema bebas
berdasarkan daya imajinasi siswa.
Berdasarkan pengamatan hasil karya
gambar anak SD kelas I dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
- Belum ada kesadaran ruang objek, yang mereka gambar terkesan tegak lurus atau datar dan terkesan tidak memiliki ruang. Hal ini terlihat pada gambar halaman 1-5.
- Pada halaman 1 gambar terkesan tidak padu contohnya pada gambar pohon kelapa di sebelah gunung dengan gambar pohon mangga karena besarnya sama.
- Pada halaman 2 dan 3 gambar rumah terlihat tegak lurus dan kesannya datar.
- Pada halaman 4 gambar rumah terlihat hampir separuh gunung sehingga terkesan datar dan tidak padu.
- Pada halaman 5 gambar rumah terlihat tegak lurus pada jalan, sehingga jalan tersebut terkesan seperti tangga/tembok. Hal ini dikarenakan siswa belum memiliki kesadaran ruang objek.
- Ukuran objek tidak proporsional antara 1 dengan yang lainnya.
- Pada halaman 4 gambar rumah terlihat hampir separuh gunung sehingga terkesan datar dan tidak padu.
- Cenderung menggunakan warna-warna yang mencolok
- Pada halaman 1, gambar gunung warnanya biru muda.
- Pada gambar halaman 2, 3, dan 5, gambar rumah atau sekolah berwarna kuning.
- Segi perspektif belum ada, yang terlihat pada halaman 1-5.
- Sudah mampu menggambar suatu bentuk geometris contohnya persegi panjang.
- Merupakan curahan dari perasaannya dan kreasi dari imajinasinya.
Berdasarkan pengamatan hasil karya
gambar anak SD kelas II dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
- Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Pada gambar halaman 6-10.
- Kesadaran ruang mulai muncul.
- Gambar masih terkesan datar.
- Warna pada gambar sudah tampak padu. Pada halaman 6-10
Tetapi, pada gambar anak kelas 3
pada halaman 11 ditemukan ciri-ciri seperti gambar anak kelas II.
Berdasarkan pengamatan hasil karya
gambar anak SD kelas III dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
- Masih belum memiliki kesadaran ruang yang mana seharusnya pada usia ini anak sudah mulai memiliki kesadaran ruang terlihat pada gambar halaman 11-15.
- Cenderung mengulang-ulang bentuk yang sudah mereka gambar, dalam hal ini terlihat persegi empat banyak diulang pada gambar halaman 12.
- Gambar merupakan curahan perasaannya, hal ini terlihat dari banyaknya jumlah awan terlihat pada gambar halaman 11,12.
- Mulai mengeksplorasi lingkungan yang mana hal ini terlihat pada gambar anak yang menggambar tata kota pada gambar halaman 12.
- Mulai memahami tentang perspektif, yang mana terlihat pada gambar pohon yang letaknya jauh terlihat lebih kecil daripada ukuran rumah pada gambar halaman 14.
Berdasarkan pengamatan hasil karya
gambar anak SD kelas IV dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
- Banyak menggunakan warna-warna terang terkesan lembut dan mulai bisa memadukan warna pada gambar halaman16,17.
- Anak mulai mengenali obyek secara keseluruhan dengan lingkungannya tidak terpisah-pisah, hal ini terlihat dari cara anak mewarnai awan, warna langit saat matahari akan tenggelam.
- Sudah mulai menggunakan perspektif dalam gambarnya pada gambar halaman 16,17 dan 20.
- Anak menggambar sesuai dengan penglihatannya atau persepsinya. Hal ini dapat terlihat dari warna langit yang diberi warna merah, oranye dan kuning yang menunjukan matahari akan terbenam pada gambar halaman 16.
- Masih ada anak yang menggambar tegak lurus pada semua latarnya pada halaman 18.
- Sebagian gambar anak masih terkesan datar, namun ada gambar yang terlihat memiliki kesan ruang pada halaman 20.
- Sebagian gambar memiliki proporsi yang belum seimbang. Seperti pada gambar halaman 18.
Berdasarkan pengamatan hasil karya
gambar anak SD kelas V dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
- Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri, mereka menyatukan objek dengan lingkungan. Seperti pada gambar halaman 24.
Pada gambar tersebut tampak gambar
boneka lebih menonjol dibanding dengan lingkungan sekitarnya.
- Perhatian pada objek sudah mulai rinci. Namun demikian dalam menggambar objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pada gambar halaman 21.
- Pemahaman warna sudah mulai disadari, hal ini terlihat pada halaman 21 dan 24.
Berdasarkan pengamatan hasil karya
gambar anak SD kelas VI dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
- Penguasaan konsep ruang mulai dikenalnya sehingga, letak objek tidak lagi bertumpu pada garis dasar, melainkan pada bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis horizon.
- Pemahaman warna sudah mulai disadari, hal ini terlihat pada halaman 26,28,29 dan 30.
- Selain dikenalnya warna dan ruang, penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal dalam periode ini. Pada halaman 26 dan 28.
Berdasarkan hasil gambar anak kelas
I-VI anak laki-laki lebih senang menggambar kendaraan sedangkan anak perempuan
menggambar boneka atau bunga. Jika dikelompokkan gambar anak terdapat beberapa
tipe, yaitu tipe visual 16 gambar dan tipe haptik 10 gambar kemudian sisanya
tak teridentifikasi.
sumber : http://helgapanda.blogspot.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar