Senin, 26 Desember 2016

tugas perkembangan peserta didik 7



15/11/2016
Perkembangan  seni rupa anak –anak
Gambar merupakan bahasa rupa dan bahasa lisan dan tulis

Perkembangan Peserta Didik
  1. Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
Anak Sekolah Dasar (SD) berusia sekitar 6 – 12 tahun sebagai masa sekolah, perlu  didukung  oleh guru  agar  masa  peka  ini  dapat  dimanfaatkan secara  maksimal oleh  para  siswa . Tahap-tahap  perkembangan  menggambar/seni  rupa  secara  garis besar dapat dibedakan  dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan kelas III ditandai  dengan  kuatnya daya  fantasi-imajinasi,  sedangkan  kelas  IV sampai dengan kelas VI ditandai dengan mulai berfungsinya kekuatan rasio.
Ada dua cara untuk memahami perkembangan seni  rupa anak-anak. Pertama, mengkaji  teori-teori  yang  berkaitan  dengan  perkembangan  senirupa  anak  menurut para ahli. Kedua, mengamati dan mengkaji karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya anak  berdasarkan rentang usia yang relevan dengan  teori yang  telah  kita  pelajari.  Melalui  kegiatan  ini,  diharapkan  kita  bisa memahami perkembangan seni rupa anak secara komprehensif.

  1. Periodisasi Perkembangan Seni Rupa anak-anak
Pembagian  masa/periodisasi  dimaksudkan  untuk  lebih  mengenal  karya  seni rupa  anak  dalam  hal  melakukan  kegiatan  dan  penilaian.  Pada  umumnya  semua periodisai  yang dikemukakan oleh para  ahli   memiliki kesamaan,  misalnya  dimulai dari dua tahun.
Periodisasi  masa  perkembangan  seni rupa anak menurut  Viktor  Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam:  Creative  and  Mental  Growth adalah
(1) Masa mencoreng (scribbling)                                      : 2-4 tahun
(2) Masa Prabagan (preschematic)                                    : 4-7 tahun
(3) Masa Bagan (schematic period)                                  : 7-9 tahun
(4) Masa Realisme Awal  (Dawning Realism)                  : 9-12 tahun
(5) Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
(6) Masa Penentuan (Period of Decision)                         : 14-17 tahun.

Penjelasan periodisasi perkembangan seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
  1. Masa Mencoreng (scribbling) : 2-4 tahun
Goresan-goresan  yang  dibuat  anak  usia  2-3  tahun  belum  menggambarkan  suatu  bentuk  objek.  Pada  awalnya,  coretan  hanya  mengikuti  perkembangan  gerak motorik.  Biasanya,  tahap  pertama  hanya  mampu  menghasilkan  goresan  terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal  ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik  anak  yang  masih  mengunakan  motorik  kasar.  Kemudian,  pada perekembangan  berikutnya  penggambaran  garis  mulai  beragam  dengan  arah  yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar.
Periode ini  terbagi ke dalam  tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gembar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan  bernama  merupakan  tahap  akhir  masa  coreng  moreng.  Biasanya terjadi  menjelang  usia  3-4  tahun,  sejalan  dengan  perkembangan  bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama,  misalnya:  “rumah”, “mobil”,  “kuda”.  Hal  ini  dapat  digunakan  oleh  orang  tua  atau  guru  pada  jenjang pendidikan  usia  dini  (TK)  dalam  membangkitkan  keberanianan  anak  untuk mengemukakan  kata-kata  tertentu  atau  pendapat  tertentu  berdasarkan  hal  yang digambarkannya.

  1. Masa Prabagan (preschematic) : 4-7 tahun
Kecenderungan  umum  pada    tahap  ini,  objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya.
Penempatan  dan  ukuran  objek  bersifat  subjektif,  didasarkan  kepada kepentingannya. Ini  dinamakan  dengan  “perspektif batin”. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.

  1. Masa Bagan (schematic period) : 7-9 tahun
Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar      masih  tetap  berkesan  datar  dan  berputar  atau  rebah  (tampak  pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian  kiri  rebah  ke  kiri,  bagian  kanan  rebah  ke  kanan).  Pada  perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line).
Penafsiran  ruang  bersifat  subjektif,  tampak  pada  gambar  “tembus  pandang” (contoh:  digambarkan  orang  makan  di  ruangan,  seakan-akan  dinding  terbuat  dari kaca).  Gejala  ini  disebut  dengan  idioplastis  (gambar  terawang,  tembus  pandang). Misalnya  gambar  sebuah  rumahyang  seolah-olah  terbuat  dari  kaca  bening,  hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas.

  1. Masa Realisme Awal  (Dawning Realism) : 9-12 tahun
Pada  periode  Realisme  Awal,  karya  anak  lebih  menyerupai  kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan  objek  dalam  lingkungan.  Perhatian  kepada  objek  sudah  mulai rinci.  Namun  demikian,  dalam  menggambarkan  objek,  proporsi  (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya.  Pemahaman  warna  sudah  mulai disadari. Penguasan konsep  ruang mulai  dikenalnya sehingga  letak  objek  tidak lagi  bertumpu  pada  garis  dasar,  melainkan  pada  bidang  dasar  sehingga  mulai ditemukan  garis  horizon.  Selain  dikenalnya  warna  dan  ruang,  penguasaan  unsur  desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini.
Ada  perbedaan  kesenangan  umum,  misalnya:  anak  laki-laki  lebih  senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga.

  1. Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada  masa  naturalisme  semu,  kemampuan  berfikir  abstrak  serta  kesadaran sosialnya  makin  berkembang.  Perhatian  kepada  seni  mulai  kritis,  bahkan  terhadap karyanya  sendiri.  Pengamatan  kepada  objek  lebih  rinci.

  1. Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Pada  periode  ini  tumbuh  kesadaran  akan  kemampuan  diri.  Perbedaan  tipe individual  makin  tampak.  Anak  yang  berbakat  cenderung  akan  melanjutkan kegiatannya  dengan  rasa  senang,  tetapi  yang  merasa  tidak  berbakat  akan meninggalkan  kegiatan  seni  rupa,  apalagi  tanpa  bimbingan.  Dalam  hal  ini  peranan guru banyak  menentukan,  terutama dalam meyakinkan  bahwa  keterlibatan  manusia dengan  seni  akan  berlangsung  terus  dalam  kehidupan.  Seni  bukan  urusan  seniman saja, tetapi urusan semua orang  dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari





HASIL ANALISIS GAMBAR SISWA SEKOLAH DASAR
Berdasarkan hasil karya gambar anak SD yang telah saya kumpulkan memiliki karakteristik yang berbeda-beda hal ini dapat tema, ciri-ciri, dan teknik dalam menggambar. Pada gambar-gambar tersebut ada beberapa tema yang digunakan yaitu tema lingkungan sekitar, pemandangan alam, dan bertemakan bebas. Pada gambar halaman 2,3,4,5,9,10,12,13,14,18,19, bertema lingkungan sekitar, dalam hal ini kemungkinan mereka mengamatinya dalam kehidupan sehari-hari dan mereka juga peka terhadap lingkungan disekitarnya. Pada halaman 1,6,7,8,11,16,17,21,26,27,28,29,30 bertema pemandangan alam, kemungkinan berasal dari pengalaman mereka saat bertamasya dan metode mencontoh dari guru SD. Sedangkan pada halaman 15,20,22,23,24,25 bertema bebas berdasarkan daya imajinasi siswa.
Berdasarkan pengamatan hasil karya gambar anak SD kelas I dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Belum ada kesadaran ruang objek, yang mereka gambar terkesan tegak lurus atau datar dan terkesan tidak memiliki ruang. Hal ini terlihat pada gambar halaman 1-5.
  • Pada halaman 1 gambar terkesan tidak padu contohnya pada gambar pohon kelapa di sebelah gunung dengan gambar pohon mangga karena besarnya sama.
  • Pada halaman 2 dan 3 gambar rumah terlihat tegak lurus dan kesannya datar.
  • Pada halaman 4 gambar rumah terlihat hampir separuh gunung sehingga terkesan datar dan tidak padu.
  • Pada halaman 5 gambar rumah terlihat tegak lurus pada jalan, sehingga jalan tersebut terkesan seperti tangga/tembok. Hal ini dikarenakan siswa belum memiliki kesadaran ruang objek.

  1. Ukuran objek tidak proporsional antara 1 dengan yang lainnya.
  • Pada halaman 4 gambar rumah terlihat hampir separuh gunung sehingga terkesan datar dan tidak padu.

  1. Cenderung menggunakan warna-warna yang mencolok
  • Pada halaman 1, gambar gunung warnanya biru muda.
  • Pada gambar halaman 2, 3, dan 5, gambar rumah atau sekolah berwarna kuning.

  1. Segi perspektif belum ada, yang terlihat pada halaman 1-5.
  2. Sudah mampu menggambar suatu bentuk geometris contohnya persegi panjang.
  3. Merupakan curahan dari perasaannya dan kreasi dari imajinasinya.

Berdasarkan pengamatan hasil karya gambar anak SD kelas II dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Pada gambar halaman 6-10.
  2. Kesadaran ruang mulai muncul.
  3. Gambar masih terkesan datar.
  4. Warna pada gambar sudah tampak padu. Pada halaman 6-10
Tetapi, pada gambar anak kelas 3 pada halaman 11 ditemukan ciri-ciri seperti gambar anak kelas II.

Berdasarkan pengamatan hasil karya gambar anak SD kelas III dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Masih belum memiliki kesadaran ruang yang mana seharusnya pada usia ini anak sudah mulai memiliki kesadaran ruang terlihat pada gambar halaman 11-15.
  2. Cenderung mengulang-ulang bentuk yang sudah mereka gambar, dalam hal ini terlihat persegi empat banyak diulang pada gambar halaman 12.
  3. Gambar merupakan curahan perasaannya, hal ini terlihat dari banyaknya jumlah awan terlihat pada gambar halaman 11,12.
  4. Mulai mengeksplorasi lingkungan yang mana hal ini terlihat pada gambar anak yang menggambar tata kota pada gambar halaman 12.
  5. Mulai memahami tentang perspektif, yang mana terlihat pada gambar pohon yang letaknya jauh terlihat lebih kecil daripada ukuran rumah pada gambar halaman 14.

Berdasarkan pengamatan hasil karya gambar anak SD kelas IV dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Banyak menggunakan warna-warna terang terkesan lembut dan mulai bisa memadukan warna pada gambar halaman16,17.
  2. Anak mulai mengenali obyek secara keseluruhan dengan lingkungannya tidak terpisah-pisah, hal ini terlihat dari cara anak mewarnai awan, warna langit saat matahari akan tenggelam.
  3. Sudah mulai menggunakan perspektif dalam gambarnya pada gambar halaman 16,17 dan 20.
  4. Anak menggambar sesuai dengan penglihatannya atau persepsinya. Hal ini dapat terlihat dari warna langit yang diberi warna merah, oranye dan kuning yang menunjukan matahari akan terbenam pada gambar halaman 16.
  5. Masih ada anak yang menggambar tegak lurus pada semua latarnya pada halaman 18.
  6. Sebagian gambar anak masih terkesan datar, namun ada gambar yang terlihat memiliki kesan ruang pada halaman 20.
  7. Sebagian gambar memiliki proporsi yang belum seimbang. Seperti pada gambar halaman 18.

Berdasarkan pengamatan hasil karya gambar anak SD kelas V dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri, mereka menyatukan objek dengan lingkungan. Seperti pada gambar halaman 24.
Pada gambar tersebut tampak gambar boneka lebih menonjol dibanding dengan lingkungan sekitarnya.
  1. Perhatian pada objek sudah mulai rinci. Namun demikian dalam menggambar objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pada gambar halaman 21.
  2. Pemahaman warna sudah mulai disadari, hal ini terlihat pada halaman 21 dan 24.

Berdasarkan pengamatan hasil karya gambar anak SD kelas VI dapat disimpulkan ciri-cirinya sebagai berikut :
  1. Penguasaan konsep ruang mulai dikenalnya sehingga, letak objek tidak lagi bertumpu pada garis dasar, melainkan pada bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis horizon.
  2. Pemahaman warna sudah mulai disadari, hal ini terlihat pada halaman 26,28,29 dan 30.
  3. Selain dikenalnya warna dan ruang, penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal dalam periode ini. Pada halaman 26 dan 28.

Berdasarkan hasil gambar anak kelas I-VI anak laki-laki lebih senang menggambar kendaraan sedangkan anak perempuan menggambar boneka atau bunga. Jika dikelompokkan gambar anak terdapat beberapa tipe, yaitu tipe visual 16 gambar dan tipe haptik 10 gambar kemudian sisanya tak teridentifikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar