Tanggal 5/10/2016
Ciri-ciri perkembangan
-sistematis yaitu saling ketergantungan
-progresif yaitu maju,meningkat,mendalam
-berkesinambungan yaitu perubahan pada bagian organisme selalu beraturan
-terjadinya perubahan aspek fisik dan fisikis (kemampuan
berfikir,meningkat,berprestasi)
-terjadinya perubahan dalam propesi pisik dan
fisikis(imajinasi,pantasi,realitas)
-hilang tanda-tanda anak –anak
-memproleh tanda baru
Teori Perkembangan Psikososial
Teori
perkembangan psikososial berkaitan dengan prinsip-prinsip perkembangan
psikologi dan sosial. Teori ini merupakan bentuk pengembangan dari teori
psikoseksual yang dicetuskan oleh Sigmund Freud. Erikson membagi tahapan
perkembangan psikososial menjadi delapan tahapan seperti yang tertera dalam
tabel di bawah ini.
Tabel 1. Tahapan Perkembangan Psikososial
|
Tahap
|
Perkiraan Usia
|
Krisis Psikososial
|
|
I
|
Lahir - 18 bulan
|
Trust vs
Mistrust (percaya vs tidak percaya)
|
|
II
|
18 bulan - 3 tahun
|
Autonomy vs
Doubt (kemandirian vs keraguan)
|
|
III
|
3 tahun – 6 tahun
|
Initiative vs
Guilt (inisiatif vs rasa bersalah)
|
|
IV
|
6 tahun – 12 tahun
|
Industry vs
Inferiority (ketekunan vs rasa rendah diri)
|
|
V
|
12 tahun -18 tahun
|
Identity vs
Role Confusion (identitas vs kekacauan identitas)
|
|
VI
|
Dewasa awal (± 18 tahun – 40 tahun)
|
Intimacy vs
Isolation (keintiman vs isolasi)
|
|
VII
|
Dewasa pertengahan (± 40 tahun – 65
tahun)
|
Generativity
vs Self Absorption (generativitas vs stagnasi)
|
|
VIII
|
Dewasa akhir / tua (± 65 ke atas)
|
Integrity vs
Despair (integritas vs keputusasaan)
|
a.
Trust vs
Mistrust (Lahir - 18 bulan)
Berdasarkan
Tabel 1, dapat dilihat bahwa tahap ini terjadi pada masa awal pertumbuhan
seseorang dimulai. Pada tahap ini seorang anak akan mulai belajar untuk
beradaptasi dengan sekitarnya. Hal pertama yang akan dipelajari oleh seorang
anak adalah rasa percaya. Percaya pada orang-orang yang berada di sekitarnya.
Seorang ibu atau pengasuh biasanya adalah orang penting pertama yang ada dalam dunia
si anak. Jika ibu memperhatikan kebutuhan si anak seperti makan maupun kasih
sayang, maka anak akan merasa aman dan percaya untuk menyerahkan atau
menggantungkan kebutuhannya kepada ibunya. Namun, bila ibu tidak memberikan apa
yang harusnya diberikan kepada si anak, maka secara tidak langsung itu dapat
membentuk anak menjadi seorang yang penuh kecurigaan, sebab ia merasa tidak
aman untuk hidup di dunia (Slavin, 2006).
Shaffer (2005:
135) menyatakan bahwa pengasuh yang konsisten dalam merespon kebutuhan anak
akan menumbuhkan rasa percaya anak kepada orang lain, sedangkan pengasuh yang
tidak responsif atau tidak konsisten akan membentuk anak menjadi seorang yang
penuh kecurigaan. Anak-anak yang telah belajar untuk tidak mempercayai pengasuh
selama masa bayinya mungkin akan menghindari atau tetap skeptis untuk membangun
hubungan berdasarkan rasa saling percaya sepanjang hidupnya.
b.
Autonomy vs
Doubt (18 bulan - 3 tahun)
Pada tahap ini
anak sudah memiliki kemampuan untuk melakukan beberapa kegiatan secara mandiri
seperti makan, berjalan atau memakai sandal. Kepercayaan orang tua kepada anak
pada usia ini untuk mengeksplorasi hal-hal yang dapat dilakukannya secara
mandiri dan memberikan bimbingan kepadanya akan membentuk anak menjadi pribadi
yang mandiri dan percaya diri. Sementara orang tua yang membatasi dan berlaku
keras pada anaknya, akan membentuk anak tersebut menjadi orang yang lemah dan
tidak kompeten yang dapat menyebabkan malu dan ragu-ragu terhadap kemampuannya.
c.
Initiative vs
Guilt (3 tahun – 6 tahun)
Pada tahap ini,
kemampuan motorik dan bahasa anak mulai matang, sehingga memungkinkan mereka
untuk lebih agresif dalam mengeksplor lingkungan mereka baik secara fisik
maupun sosial. Pada usia-usia ini anak sudah mulai memiliki inisiatif dalam
melakukan suatu tindakan misalnya berlari, bermain, melompat dan melempar.
Orang tua yang suka memberikan hukuman terhadap upaya anaknya dalam mengambil
inisiatif akan membuat anak merasa bersalah tentang dorongan alaminya untuk
melakukan sesuatu selama fase ini maupun fase selanjutnya.
Pada masa ini
anak telah memasuki tahapan prasekolah. Ia sudah memiliki beberapa kecakapan
dalam mengolah kemampuan motorik dan bahasa. Dengan kecakapan-kecakapan
tersebut, dia terdorong melakukan beberapa kegiatan. Namun, karena kemampuan
anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan.
Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah. Peran
orang tua untuk membimbing dan memotivasi anak sangat dibutuhkan ketika anak
mengalami kegagalan. Hal ini dimaksudkan agar anak dapat melewati tahap ini
dengan baik.
Erikson (dalam
Shaffer, 2005) mengusulkan bahwa anak usia 2-3 tahun berjuang untuk menjadi
seorang yang independen atau mandiri dengan mencoba melakukan hal-hal yang
mereka butuhkan secara mandiri seperti makan dan berjalan. Sementara anak usia
4-5 tahun yang telah mencapai rasa otonomi, sekarang mereka memperoleh
keterampilan baru, mencapai tujuan penting, dan merasa bangga dalam prestasi
yang mereka capai. Anak-anak usia
prasekolah sebagian besar mendefinisikan diri mereka dalam hal kegiatan dan
kemampuan fisik seperti “aku bisa berlari dengan cepat, aku bisa memanjat
tangga, aku bisa menggambar bunga”. Hal ini mencerminkan rasa inisiatif mereka
untuk melakukan suatu kegiatan, dan rasa inisiatif ini sangat dibutuhkan oleh
seorang anak dalam menghadapi pelajaran-pelajaran baru yang akan ia pelajari di
sekolah.
Sesuatu yang
berlebihan maupun kekurangan itu tidaklah baik. Dalam hal ini, bila seorang memiliki sikap inisiatif yang berlebihan atau juga terlalu kurang, maka dapat menimbulkan suatu rasa ketidakpedulian (ruthlessness). Anak yang
terlalu berinisiatif, maka ia tidak akan memperdulikan bimbingan orang tua yang
diberikan kepadanya. Sebaliknya, anak yang terlalu merasa bersalah, maka ia
akan bersikap tidak peduli, dalam arti tidak melakukan usaha untuk berbuat
sesuatu, agar ia terhindar dari berbuat kesalahan. Oleh sebab itu, hendaknya
orang tua dapat bersikap bijak dalam menanggapi setiap perbuatan yang dilakukan
oleh anak.
d.
Industry vs
Inferiority (6 tahun – 12 tahun)
Pada tahap ini,
anak sudah memasuki usia sekolah, kemampuan akademiknya mulai berkembang.
Selain itu, kemampuan sosial anak untuk berinteraksi di luar anggota
keluarganya juga mulai berkembang. Anak akan belajar berinteraksi dengan
teman-temannya maupun dengan gurunya. Jika cukup rajin, anak-anak akan
memperoleh keterampilan sosial dan akademik untuk merasa percaya diri.
Kegagalan untuk memperoleh prestasi-prestasi penting menyebabkan anak untuk
menciptakan citra diri yang negatif. Hal ini dapat membawa kepada perasaan
rendah diri yang dapat menghambat pembelajaran di masa depan.
Pada tahap ini
anak juga akan membandingkan dirinya dengan teman-temannya. Shaffer (2005)
mengatakan pada usia 9 tahun hubungan teman sebaya menjadi sangat penting untuk
anak-anak sekolah. Mereka peduli pada sikap-sikap maupun penampilan yang akan
memperkuat posisi mereka dengan teman sebayanya. Sedangkan pada anak yang
berusia 11,5 tahun, anak semakin membandingkan diri mereka dengan orang lain
dan mengakui bahwa ada dimensi di mana mereka mungkin kurang dalam perbandingan
tersebut, seperti “aku tidak cantik, aku biasa-biasa saja dalam hal prestasi”.
Oleh sebab itu, sebagai seorang guru hendaknya dapat memberikan motivasi pada
anak-anak yang belum berhasil dalam mencapai prestasi mereka agar anak tidak
memiliki sifat yang rendah diri. Guru dapat mencari momen-momen penting ketika
di sekolah untuk memberikan penghargaan pada seluruh anak-anak, sehingga anak
akan merasa bangga dan percaya diri terhadap pencapaian yang mereka peroleh.
e.
Identity vs
Role Confusion (12 tahun -18 tahun)
Pada tahap ini
anak sudah memasuki usia remaja dan mulai mencari jati dirinya. Masa ini adalah
masa peralihan antara dunia anak-anak dan dewasa. Secara biologis anak pada
tahap ini sudah mulai memasuki tahap dewasa, namun secara psikis usia remaja
masih belum bisa diberi tanggung jawab yang berat layaknya orang dewasa.
Pertanyaan “Siapa Aku?” menjadi penting pada tahapan ini. Pada tahap ini,
seorang remaja akan mencoba banyak hal untuk mengetahui jati diri mereka yang
sebenarnya. Biasanya mereka akan melaluinya dengan teman-teman yang mempunyai
kesamaan komitmen dalam sebuah kelompok. Hubungan mereka dalam kelompok
tersebut sangat erat, sehingga mereka memiliki solidaritas yang tinggi terhadap
sesama anggota kelompok.
Erikson (dalam
Shaffer, 2005) percaya bahwa individu tanpa identitas yang jelas akhirnya akan
menjadi tertekan dan kurang percaya diri ketika mereka tidak memiliki tujuan,
atau bahkan mereka mungkin sungguh-sungguh menerima bila dicap sebagai orang
yang memiliki identitas negatif, seperti menjadi kambing hitam, nakal, atau
pecundang. Alasan mereka melakukan ini karena mereka lebih baik menjadi
seseorang yang dicap sebagai orang yang memiliki identitas negatif daripada
tidak memiliki identitas sama sekali.
Harter (dalam
Shaffer, 2005) mengatakan bahwa remaja yang terlalu kecewa atas penggambaran
diri mereka yang tidak konsisten akan bertindak keluar dari karakter dalam
upaya untuk meningkatkan citra mereka atau mendapat pengakuan dari orang tua
atau teman sebaya. Anak pada usia ini rawan untuk melakukan beberapa hal
negatif dalam rangka pencarian jati diri mereka. Bimbingan dan pengarahan baik
dari orang tua maupun guru juga diperlukan bagi anak pada tahap ini, agar
mereka dapat menemukan jati diri mereka sebenarnya.
f.
Intimacy vs
Isolation (± 18 tahun – 40 tahun)
Pada tahap ini,
seseorang sudah mengetahui jati diri mereka dan akan menjadi apa mereka
nantinya. Jika pada masa sebelumnya, individu
memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan
kelompok sudah mulai longgar. Pada fase ini seseorang sudah memiliki
komitmen untuk menjalin suatu hubungan dengan orang lain. Dia sudah mulai selektif untuk membina hubungan yang intim hanya dengan
orang-orang tertentu yang sepaham. Namun, jika dia
mengalami kegagalan, maka akan muncul rasa keterasingan dan jarak dalam
berinteraksi dengan orang.
Keberhasilan
dalam melewati fase ini tentu saja tidak terlepas dari fase-fase sebelumnya.
Jika pada fase sebelumnya seseorang belum dapat mengatasi rasa curiga, rendah
diri maupun kebingungan identitas, maka hal tersebut akan berdampak pada
kegagalan dalam membina sebuah hubungan, dan menjadikannya sebagai seseorang
yang terisolasi. Pada tahap ini, bantuan dari pasangan ataupun teman dekat akan
membantu seseorang dalam melewati tahap ini.
g.
Generativity vs
Self Absorption (± 40 tahun – 65 tahun)
Erikson (dalam
Slavin, 2006) mengatakan bahwa generativitas adalah hal terpenting dalam
membangun dan membimbing generasi berikutnya. Biasanya, orang yang telah
mencapai fase generativitas melaluinya dengan membesarkan anak-anak mereka
sendiri. Namun, krisis tahap ini juga dapat berhasil dilalui dengan melewati
beberapa bentuk-bentuk lain dari produktivitas dan kreativitas, seperti
mengajar. Selama tahap ini, orang harus terus tumbuh. Jika mereka yang tidak
mampu atau tidak mau memikul tanggung jawab ini, maka mereka akan menjadi
stagnan atau egois.
Pada masa ini, salah satu tugas untuk dicapai ialah
dengan mengabdikan diri guna mendapatkan keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu
(generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah
perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi
yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat
dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda
dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang
dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Harapan yang
ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas
dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu
kepedulian. Dalam tahap ini, diharapkan
seseorang yang telah mmasuki usia dewasa menengah dapat menjalin hubungan atau
berinteraksi secara baik dan menyenangkan dengan generasi penerusnya dan tidak
memaksakan kehendak mereka pada penerusnya berdasarkan pengalaman yang mereka
alami.
h.
Integrity vs
despair (± 65 ke atas)
Seseorang yang berada pada fase ini akan melihat kembali
(flash back) kehidupan yang telah
mereka jalani dan berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang sebelumnya
belum terselesaikan. Penerimaan
terhadap prestasi, kegagalan, dan keterbatasan adalah hal utama yang membawa
dalam sebuah kesadaran bahwa hidup seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri.
Orang yang berhasil melewati tahap ini, berarti ia dapat mencerminkan
keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami. Individu ini akan mencapai
kebijaksaan, meskipun saat menghadapi kematian. Keputusasaan
dapat terjadi pada orang-orang yang menyesali cara mereka dalam menjalani hidup
atau bagaimana kehidupan mereka telah berubah.
3.
Penerapan Teori
Erikson dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Seorang anak
memasuki sekolah dasar pada usia ±6 tahun. Menurut teori Erikson, usia ini
sudah memasuki fase ke-IV, yaitu industry
vs inferiority. Siswa yang masuk
ke dalam suatu sekolah memiliki latar belakang akademik dan sosial yang
berbeda-beda. Agar pembelajaran menjadi lebih efisien dan efektif, hendaknya
seorang guru harus mengenali karakteristik peserta didiknya agar lebih mudah
dalam mengembangkan model pembelajaran yang akan digunakan dalam mengajar
(Hanurawan, 2007).
Pada tahap ini,
hendaknya guru dapat memotivasi siswanya agar dapat melalui fase ini dengan
baik, sehingga siswa tidak merasa rendah diri akan kelurangan yang dimilikinya.
Menurut teori Piaget, anak pada usia 7-11 tahun akan memasuki tahap concrete operational stage, dimana anak menerapkan logika berpikir pada
barang-barang yang konkrit (Slavin, 2006). Pembelajaran karakter sangat tepat
diterapkan pada anak usia ini, sebab anak pada usia ini cenderung untuk meniru
segala perbuatan maupun perkataan yang dilihat maupun didengar yang dilakukan oleh
orang-orang yang berada di sekitarnya. Oleh sebab itu, hendaknya seorang guru
mampu memberikan contoh yang baik kepada anak usia ini dengan berperilaku dan
bertutur kata yang sopan. Pembelajaran karakter ini diharapkan dapat menjadi
bekal bagi siswa untuk dapat melewati fase-fase perkembangan psikososial
selanjutnya dengan baik.
4.
Kelebihan dan
Kekurangan Teori Erikson
Shaffer (2005)
mengatakan banyak orang lebih memilih teori Erikson daripada Freud karena
mereka hanya menolak untuk percaya bahwa manusia didominasi oleh naluri seksual
mereka. Erikson menekankan banyak konflik sosial dan dilema pribadi yang
dialami seseorang atau orang yang mereka kenal, sehingga mereka dapat dengan
mudah mengantisipasinya. Erikson tampaknya telah menangkap banyak isu sentral
dalam kehidupan yang dituangkannya dalam delapan tahapan perkembangan
psikososialnya. Selain itu, rentang usia yang yang dinyatakan dalam teori
Erikson ini mungkin merupakan waktu terbaik untuk menyelesaikan krisis yang
dihadapi, tetapi itu bukanlah satu-satunya waktu yang mungkin untuk
menyelesaikannya (Slavin, 2006).
Selain memiliki
kelebihan, teori Erikson juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut beberapa
kritikan terhadap teori Erikson.
·
Tidak semua orang mengalami kasus yang sama pada fase dan
waktu yang sama seperti yang dikemukakan Erikson dalam teori perkembangan
psikososialnya (Slavin, 2006).
·
Teori ini benar-benar hanya pandangan deskriptif dari
perkembangan sosial dan emosional seseorang yang tanpa menjelaskan bagaimana
atau mengapa perkembangan ini bisa terjadi (Shaffer, 2005).
·
Teori ini lebih sesuai untuk anak laki-laki daripada
untuk anak perempuan dan perhatiannya lebih diberikan kepada masa bayi dan
anak-anak daripada masa dewasa. (Cramer, Craig, Flynn, Bernadette. &
LaFave, Ann, 1997).
Teori Freuds disebut Teori Psikoseksual
Menurut Freud, para bayi terlahir dengan
kemampuan untuk merasakan kenikmatan apabila terjadi kontak kulit, dan para
bayi itu memiliki semacam ketegangan di permukaan kulit mereka yang perlu
diredakan melalui kontak kulit secara langsung dengan orang lain. Freud
menyerupakan kenikmatan ini dengan rangsangan seksual tetapi ia memberi catatan
bahwa hal ini berbeda secara kualitatif dari tipe rangsangan seksual yang
dialami oleh orang dewasa karena kejadian yang dialami bayi ini lebih bersifat
umum dan belum terdiferensiasi. Freud (790511959) menyebut kemampuan untuk
mengalami kenikmatan ini dan kebutuhan untuk meredakannya dengan nama
seksualitas bayi, yang berbeda dari seksualitas orang dewasa.
Pandangan mengenai seksualitas bayi dan anak-anak
ini memicu protes luas orang-orang menentang Freud pada masa-masa akhir era
Victorian dan awal abad ke-20. Tetapi Freud dan para pengikutnya, yang
mendasarkan pendirian mereka pada pengalaman-pengalaman klinis, bersikukuh pada
teori tersebut” Mereka tetap berpegang pada pandangan bahwa kornponen-komponen
psikologis-eksperiensial saling terkait dengan disertai pergantian zona-zona
erogen secara biologis melalui urutan (sekuen) tertentu. Dengan demikian
tahapan-tahapan perkembangan ini disebut sebagai tahapan-tahapan psikoseksual
(Psychosexual stages). Teori Freud. memandang bahwa tahapan-tahapan ini
bersifat urniversal, berlaku pada sernua anak-anak dimana saja.
Menurut Freud, kemunculan setiap tahapan
psikoseksual dan sebagian bentuk perilaku yang terjadi di setiap tahapan
dikendalikan oleh faktor-faktor genetik atau kematangan sedangkan isi
tahapan-tahapan tersebut berbeda-beda bergantung pada kultur tempat terjadinya
perkembangan. Sekali lagi ini memperlihatkan contoh mengenai pentingnya
interaksi antara kekuatan keturunan dan kekuatan lingkungan bagi proses
perkembangan.
Freud berpendapat bahwa dalam perkembangan
manusia terdapat dua hal pokok yaitu: (1) bahwa tahun-tahun awal kehidupan
memegang peranan penting bagi pembentukan kepribadian; dan (2) bahwa
perkembangan manusia meliputi tahap-tahap psikoseksual:
a) Tahap oral ( sejak lahir
hingga 1tahun )
Sumber kenikmatan pokok yang berasal dari mulut
adalah makan. Dua macam aktivitas oral ini, yaitu menelan makanan dan mengigit,
merupakan prototipe bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari.
Karena tahap oral ini berlangsung pada saat bayi sama sekali tergantung pada
ibunya untuk memdapatkan makanan, pada saat dibuai, dirawat dan dilindungi dari
perasaan yang tidak menyenangkan, maka timbul perasaan-perasaan tergantung pada
masa ini. Frued berpendapat bahwa simtom ketergantungan yang paling ekstrem
adalah keinginan kembali ke dalam rahim.
b) Tahap anal ( usia 1-3 tahun
)
Setelah makanan dicernakan, maka sisa makanan
menumpuk di ujung bawah dari usus dan secara reflex akan dilepaskan keluar
apabila tekanan pada otot lingkar dubur mencapai taraf tertentu. Pada umur dua
tahun anak mendapatkan pengalaman pertama yang menentukan tentang pengaturan
atas suatu impuls instingtual oleh pihak luar. Pembiasaan akan kebersihan ini
dapat mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap pembentukan sifat-sifat dan
nilai-nilai khusus. Sifat-sifat kepribadian lain yang tak terbilang
jumlahnya konon sumber akarnya terbentuk dalam tahap anal.
c) Tahap phalik ( usia 3-5
tahun)
Selama tahap perkembangan kepribadian ini yang
menjadi pusat dinamika adalah perasaan-perasaan seksual dan agresif berkaitan
dengan mulai berfungsinya organ-organ genetikal. Kenikmatan masturbasi serta kehidupan
fantasi anak yang menyertai aktivitas auto-erotik membuka jalan bagi timbulnya
kompleks Oedipus. Freud memandang keberhasilan mengidentifikasikan
kompleks Oedipus sebagai salah satu temuan besarnya.
Freud mengasumsikan bahwa setiap orang secara inheren
adalah biseksual, setiap jenis tertarik pada anggota sejenis maupun pada
anggota lawan jenis. Asumsi tentang biseksualitas ini disokong oleh penelitian
terhadap kelenjar-kelenjar endokrin yang secara agak konklusif menunjukkan
bahwa baik hormon seks perempuan terdapat pada masing-masing jenis. Timbul dan
berkembangnya kompleks Oedipus dan kompleks kastrasi merupakan
peristiwa-peristiwa pokok selama masa phalik dan meninggalkan serangkaian bekas
dalam kepribadian.
d) Tahap laten ( usia 5 – awal pubertas)
Masa ini adlah periode tertahannya
dorongan-dorongan seks agresif. Selama masa ini anak mengembangkan kemampuannya
bersublimasi ( seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah, bermain olah raga, dan
kegiatan lainya). Tahapan latensi ini antara usia 6-12 tahun (masa sekolah
dasar)
e) Tahap genital/kelamin ( masa
remaja)
Kateksis-kateksis dari masa-masa pragenital
bersifat narsisistik. Hal ini berarti bahwa individu mendapatkan kepuasan dari
stimulasi dan manipulasi tubuhnya sendiri sedangkan orang-orang lain dikateksis
hanya karena membantu memberikan bentuk-bentuk tambahan kenikmatan tubuh bagi
anak. Selama masa adolesen, sebagian dari cinta diri atau narsisisme ini
disalurkan ke pilihan-pilihan objek yang sebenarnya.
Kateksis-kateksis pada tahap-tahap oral, anal,
dan phalik lebur dan di sistensiskan dengan impuls-impuls genital. Fungsi
biologis pokok dari tahap genital tujuan ini dengan memberikan stabilitas dan
keamanan sampai batas tertentu.
A. Teori
Kognitif Jean Piaget
Teori perkembangan kognitif piaget
adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan
menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian disekitarnya. Bagaimana anak
mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek, seperti mainan, perabot, dan
makanan, serta objek-objek social seperti diri, orang tua dan teman.
Pada pandangan piaget (1952),
kemampuan atau perkembangan kognitif adalah hasil dari hubungan perkembangan
otak dan system nervous dan pengalaman-pengalaman yang membantu individu untuk
beradaptasi dengan lingkungannya.
Piaget (1964) berpendapat, karena
manusia secara genetik sama dan mempunyai pengalaman yang hampir sama, mereka
dapat diharapkan untuk sungguh-sungguh memperlihatkan keseragaman dalam
perkembangan kognitif mereka. Oleh karena itu, dia mengembangkan empat tahap
tingkatan perkembangan kognitif yang akan terjadi selama masa kanak-kanak
sampai remaja, yaitu sensori motor (0-2 tahun) dan praoperasional (2-7 tahun).
Yang akan kita bicarakan untuk masa kanak-kanak adalah dua tahap ini lebih
dahulu, sedangkan dua tahap yang lain, yaitu operasional konkret (7-11 tahun)
dan operasional formal (11-dewasa), akan kita bicarakan pada masa awal pubertas
dan masa remaja.
Dalam teori perkembangan kognitif
Piaget, masa remaja adalah tahap transisi dari penggunaan berpikir konkret
secara operasional ke berpikir formal secara operasional. Remaja mulai
menyadari batasan-batasan pikiran mereka. Mereka berusaha dengan konsep-konsep
yang jauh dari pengalaman mereka sendiri. Inhelder dan Piaget (1978) mengakui
bahwa perubahan otak pada pubertas mungkin diperlukan untuk kemajuan kognitif
remaja.
B. Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Piaget
Menurut Jean Piaget, perkembangan
manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir sampai dewasa.
Setiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuan intelektual baru di mana
manusia mulai mengerti dunia yang bertambah kompleks.
|
Tahap-Tahap
|
Umur
|
Kemampuan
|
|
Sensori-motorik
|
0-2 tahun
|
Menunjuk pada konsep permanensi
objek, yaitu kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek masih tetap
ada. Meskipun pada waktu itu tidak tampak oleh kita dan tidak bersangkutan
dengan aktivitas pada waktu itu. Tetapi, pada stadium ini permanen objek
belum sempurna.
|
|
Praoperasional
|
2-7 tahun
|
Perkembangan kemampuan menggunakan
simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di sekitarnya. Berpikir masih
egosentris dan berpusat.
|
|
Operasional
|
7-11 tahun
|
Mampu berpikir logis. Mampu
konkret memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat
menghubungkan dimensi ini satu sama lain. Kurang egosentris. Belum bisa
berpikir abstrak.
|
|
Operasional formal
|
11tahun-dewasa
|
Mampu berpikir abstrak dan dapat
menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah.
|
Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan
selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk
melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor
adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini
menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam
sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema
refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama
dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase
reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan
berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase
reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan
dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi
reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan,
saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen
walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase
reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas
bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai
tujuan.
6. Sub-tahapan awal
representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua
dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan
bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari
fungsi psikologis muncul. Pemikiran
(Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara
mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang
jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan
dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih
bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang
lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan
semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan
pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua
sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan
kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif
bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu,
mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut
berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari
orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami
perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat
imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun
memiliki perasaan.
Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan.
Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa
penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan
ini adalah:
Pengurutan—kemampuan
untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya,
bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang
paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan
untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya,
ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian
benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak
tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan
bahwa semua benda hidup dan berperasaan).
Decentering—anak mulai
mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa
memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar
tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai
memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke
keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama
dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami
bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan
dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai
contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka
akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di
gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan
untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut
berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang
memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan,
kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti
kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti
akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa
boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir
perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam
usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus
berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya
kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik
kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat
memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala
sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi
abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan
ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya),
menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.
Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini,
sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan
tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Informasi
umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Walau
tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu
sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
2. Universal
(tidak terkait budaya)
3. Bisa
digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri
seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
Tahapan-tahapan tersebut berupa
keseluruhan yang terorganisasi secara logis
Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan
mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan
terintegrasi)
Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif
dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif.
Menurut Piaget, perkembangan
masing-masing tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari perkembangan tahap
sebelumnya. Setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang
bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan ini
terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta
adanya pengorganisasian struktur berpikir.
C. Struktur
yang Mendasari Pola-pola Tingkah Laku yang Terorganisir.
1. Skema
(struktur kognitif)
Adalah proses atau cara
mengorganisir dan merespons berbagai pengalaman. Atau suatu pola sistematis
dari tindakan, perilaku, pikiran, dan strategi pemecahan masalah yang
memberikan suatu kerangka pemikiran dalam menghadapi berbagai tantangan dan
jenis situasi.
Contoh : Gerakan refleks menghisap
pada bayi, ada gerakan otot pada pipi dan bibir yang menimbulkan gerakan
menghisap.
2. Adaptasi
(struktur fungsional)
Piaget menggunakan istilah ini untuk
menunjukkan pentingnya pola hubungan individu dengan lingkungannya dalam proses
perkembangan kognitif. Piaget yakin bahwa bayi manusia ketika dilahirkan telah
dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan dan juga kemampuan untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungannya.
Menurut Piaget, ada dua proses adaptasi yaitu :
a) Asimilasi
Integrasi antara elemen-elemen
eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap pada organism.
Asimilasi terjadi ketika individu menggunakan informasi baru ke dalam
pengetahuan mendalam yang sudah ada.
Contoh : Seorang bayi yang menghisap
puting susu ibunya atau dot botol susu, akan melakukan tindakan yang sama
(menghisap) terhadap semua objek baru.
b) Akomodasi
Menciptakan langkah baru atau
memperbarui atau menggabung-gabungkan istilah lama untuk menghadapi tantangan
baru. Akomodasi kognitif berarti mengubah struktur kognitif yang telah dimiliki
sebelumnya untuk disesuaikan dengan objek stimulus eksternal.
Contoh : bayi melakukan tindakan
yang sama terhadap ibu jarinya, yaitu menghisap. Ini berarti bahwa bayi telah
mengubah puting susu ibu menjadi ibu jari.
Daftar Rujukan
Hanurawan, Fattah. 2007. Karakteristik
Psikologi Siswa dan Pengembagan Metode Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Nilai, 14 (2): 92-100.
Shaffer, David R. 2005. Social and Personality Development. United States of America:
Thomson Wadsworth.
Slavin, Robert E. 2006. Educational Psychology: Theory and Practice. United State of
America: Pearson.