Senin, 26 Desember 2016

tugas telaah kurikulum 6



TELAAH KURIKULUM
7/11/2016
PROSES BELAJAR-MENGAJAR SEBAGAI SISTEM
Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan (Gordon, 1990 ; Puxty, 1990). Proses belajar-mengajar sebagai suatu system yang komponen-komponennya terdiri atas : 1) Siswa, 2) Guru, 3) Tujuan, 4) Materi, 5) Metode, 6) Evaluasi, dan 7) Lingkungan.
Masing-masing komonen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri-sendiri, namun dalam beproses di kesatuan system mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. Masing-masing komponen system proses belajar-mengajar itu sedikit diulas seperti paparan berikut ini.

Siswa
Teori didaktik metodik telah bergeser dalam menempatkan siswa sebagai komponen proses belajar-mengajar (PBM). Siswa yang semula dipandang sebagai objek Pendidikan bergeser sebagai subjek Pendidikan. Sebagai subjek, siswa adalah kunci dari semua pelaksanaan Pendidikan. Tiada Pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu, siswa harus dipahami dan dilayani sesuai dengan hak-hak dan tanggungjawabnya sebagai siswa. Siswa adalah individu yang unik. Mereka merupakan kesatuan psiko-fisis yang secara sosiologis berinteraksi dengan teman sebaya, guru, pengelola sekolah, pegawai administrasi, dan masyarakat pada umumnya. Mereka dating ke sekolah telah membawa potensi psikologis dan latar belakang kehidupan social. Masing-masing memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Potensi dan kemampuan inilah yang harus dikembangkan oleh guru di sekolah.

Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh sebab itu, pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun seorang guru sebagai individu memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan. Untuk itu, guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut kompetensi guru. Oleh sebab itu, tidak semua orang bisa menjadi guru yang profesional. Kompetensi guru itu mencakup menguasai siswa, menguasai tujuan, menguasai metode pembelajaran, menguasai materi, menguasai cara mengevaluasi, menguasai alat pembelajaran, dan menguasai lingkungan belajar.

Tujuan
Tujuan yang harus dipahami oleh guru meliputi tujuan berjenjang mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan umum pembelajaran, sampai tujuan khusu pembelajaran. Proses belajar-mengajar tanpa tujuan bagaikan hidup tanpa arah. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan secara keseluruhan harus dikuasai oleh guru. Tujuan disusun berdasarkan ciri karakteristik anak dan arah yang ingin dicapai.

Materi
Materi pembelajaran dalam arti luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar-mengajar pasti harus ada materinya. Anak yang sedang field-trip di kebun raya menggunakan materi jenis tumbuhan dan klasifikasinya. Anak yang praktikum di laboratorium menggunakan materi simbiose katak. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh anak. Materi disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.

Metode
Metode mengajar adalah cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Metode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak.

Sarana atau Alat
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar-mengajar digunakan alat pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi atau tiruan, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkan dalam media. Media itu dapat berupa alat elektronik, alat cetak, dan tiruan. Menggunakan sarana atau alat pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan, anak, materi dan metode pembelajaran.

Evaluasi
Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun gradasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolik yang dilaporkan kepada semua pihak. Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, objektif, kooperatif, dan efektif. Evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.

Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlangsung.

Semua komponen PBM itu harus dikelola sedemikian rupa sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal pula.

Senin, 14 November 2016

Propesi pendidikan tugas 6




26/10/2016
Teori
C.      Teori Pembelajaran Menurut Ki Hajar Dewantara
1.       Teori Konsep Pembelajaran
Pahlawan dan sebagai Pendidik asli Indonesia,Ki Hajar Dewantara melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.

            Para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.
Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah: tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hanya ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum. Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).
            Ki Hajar Dewantara juga pernah melontarkan konsep belajar 3 dinding. Yang dimaksud belajar dengan 3 dinding bukanlah belajar dikelas dengan jumlah dinding 3 buah ( salah satu dari 4 sisi dinding tidak ada ), tetapi konsep tersebut mencerminkan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realita di luar.  Belajar bukan sekedar teori dan praktek disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah lulus dari sekolah.
Seperti plpg ada jabatan dan peraturan-peraturan
-pengetahuan peserta didik
-evaluasi
-Pelatihan
-inovasi pembelajran
-Penelitian tindakan kelas

Propesi pendidikan tugas 5




19/10/2016
Guru menurut  KI HAJAR DEWANTARA
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah meninggal dunia
Ki Hadjar Dewantara membedakan antara sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan”. Pendidikan dan pengajaran idealnya memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah selalu relevan untuk segala jaman.Menurutnya pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Manusia merdeka itu adalah manusia yang hidupnya secara lahir dan batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi ia mampu bersandar dan berdiri di atas kakinya sendiri. Artinya sistem pendidikan itu mampu menjadikan setiap individu hidup mandiri dan berani berpikir sendiri.
Pengajaran adalah satu bagian dari pendidikan. Artinya pengajaran ialah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan dan memberi kecakapan, pengertian serta pelatihan kepandaian kepada anak-anak, baik lahir maupun batin.
Menurut Ki Hajar Dewantara, metode pendidikan yang cocok dengan karakter dan budaya orang Indonesia tidak memakai syarat paksaan. Orang Indonesia termasuk ke dalam bangsa timur. Bangsa yang hidup dalam khazanah nilai-nilai tradisional berupa kehalusan rasa, hidup dalam kasih sayang, cinta akan perdamaian, persaudaraan, serta menghargai kesetaraan derajat kemanusiaan dengan sesama. Nilai-nilai itu disemai dalam dan melalui dunia pendidikan sejak usia dini anak. Dalam praksis penyemaian nilai-nilai itu, pendidik menempatkan peserta didiknya sebagai subjek, bukan objek pendidikan. Artinya, peserta didik diberi ruang yang seluas-luasnya untuk melakukan eksplorasi potensi-potensi dirinya dan kemudian berekspresi secara kreatif, mandiri dan bertanggung jawab. Pendidik atau pamong adalah orang yang menuntun proses pengekspresian potensi-potensi diri peserta didiknya agar terarah dan tidak destrktif bagi dirinya dan sesamanya.
Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan dari pendidikan adalah penguasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka. Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang mudah diatur, tetapi tidak dapat disetir.
Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.
PEMIKIRAN FILSAFAT UMUM KI HAJAR DEWANTARA
v Metafisika : pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang hakekat realitas terdalam dari segala sesuatu sebgai suatu kajian metafisika bersifat kerohanian dan religius, bahwa tuhan adalah pencipta dari segala sesuatu di dunia ini.
v Dilihat dari sudut filsafat ketuhanan, ki hadjar dewantara memiliki pandangan theistis, pandangan yang mengakui keberadaan tuhan sebagai pencipt dan penguasa segenap realitas.
v Epistemologi : pandangan kerohanian spiritual sebgai penjelas tentang hakekat realitas terdalam segala sesuatu dilihat secara lebih kongkret dari pembuatan pengertian kebudayaan. Menurut Ki Hadjar Dewantara kebudayaan sebagai hasil dari olah budi manusia merupakan hasil dari anugrah tuhan yang telah di berikan kepada manusia.
v Pandangan filsafat manusia Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bahwa manusia adalah sekaligus makhlik ciptaan tuhan dan makhluk yang memiliki kebebasan untuk melkukan eksplorasi dalam menciptakan produk-produk kebudayaan.
v Aksiologi : pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang nilai-nilai etika adalah konsistensi dengan pandangannya tentang hakekat realitas. Pandangan beliau mengarah pada pandangan nilai-nilai etika yang bersifat humanistik religius.
v Ini berarti penilaian dan kriteria baik dan buruk perilaku atau tindakan seseorang dapat dikembalikan pada nilai-nilai kerohanian keagamaan berdasarkan pada pangialn jiwanya sebgai manusia yang dapat disebut sebagai makhluk Tuhan.
PEMIKIRANN FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA
a. Filsafat Pendidikan dalam Metode Pembelajaran Sistem Among
Ø Istilah Among lebih dipadankan dengan fasilitator. Dalam pembelajaran sistem among , guru diharuskan untuk mampu mengembangkan anak dalam proses pendidikan berdasarkan pada interaksi dinamis antara perkembangan natural yg ada dalam diri siswa yg tidak mengabaikan begitu saja kondisi lingkungan sosial dan fisik siswa.
Ø Dalam praktek-praktek pembelajaran lebih bersifat pembinaan kepengasuhan, gur u disarankan menghindari pemberian perintah dan paksaan berdasarkan instrumen hukuman yang biasa dilakukan dalam sitem pendidikan yang besifat tradisional.
Metode pembelajaran sistem among dapat digambarkan dalam semboyan filsafat kependidikan beliau yang sangat terkenal :
§ Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)
§ Ing madya mangun karsa (di tengah memberi kesempatan untuk berkarya)
§ Tut wuri handayani (dari belakang memberi dorongn dan arahan)
b. Konsep Tripusat Pendidikan
Dalam upaya untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif untuk membangun manusia seutuhnya , beliau mengembangkan kerja sama antara pranata-pranata kebudayaan di sekeliling kita, yaitu pranata keluarga, pranata sekolah, dan pranata masyarakat yang disebut dengan konsep tripusat pendidikan.
c. Keluarga sebagai Wadah Pendidikan Alamiah
§ Ki hadjar dewantara memiliki pandanagn bahwa institusi keluarga merupakan wadah atau tempat pendidikan pertama bagi seorang anak.
§ Dalam konteks sosialisasi sebagai pewaris nilai dari generasi tua kepada generasi muda, keluarga merupakan saluaran sosialisasi yg pertama dan utama bagi seorang anak.
DRIYARKARA
Pendidikan didefinisikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani. Pendidikan itu adalah pelaksanaan (pemberlakuan) nilai-nilai. Dalam hal ini, pendidikan seharusnya mampu membawa anak didik untuk mengalami, menghayati nilai-nilai keagamaan, sehingga anak didik membangun nilai-nilai keagamaan itu di dalam kepribadannya. Dengan kata lain anak didik diarahkan agar ia mampu mengenal, menerima, menghayati, dan mengamalkan apa yang telah diajarkan dan mampu menjauhkan diri dari apa yang telah menjadi laangan Tuhan sebagai nilai yang tertinggi di dalam kehidupannya.
Anak didik adalah manusia muda, manusia yang masih dalam taraf potensial, manusia yang belum sampai pada taraf “maksimal”. Maka dari itu, mengapa mendidik itu disebut suatu perbuatan fundamental. Sebabnya, karena mendidik itu adalah memanusiakan manusia muda, mendidik itu adalah homonisasi dan humanisasi, yaitu perbuatan yang menyebabkan manusia menjadi manusia. Proses homonisasi artinya penjadian manusia yaitu manusia dari taraf potensional ke taraf “maksimal” (telah mampu berbuat selayakanya manusia), sedangkan proses humanisasi menunjuk perkembangan kebudayaan yang lebih tinggi.
Pendidikan adalah pemanusiaan anak. Pemanusiaan di sini mempunyai dua arti: pendidik memanusiaka anak didik dan anak didik mmemanusiakan dirinya. Permanusiaan itulah yang merupakan proses dalam pendidikan. Proses itu akan berakhir, jika anak sudah dapat memanusiakan sendiri sebagai purnawan.
Pendidikan adalah pembudayaan anak. Pembudayaan di sini menunjukkan aktivitas baik dari pendidik maupun anak didik. Pendidik membudayakan anak, dan anak karena di budayakan itu membudayakan diri. Pembudayaan di sini jangan dipandang dalam arti yang khusus dan bertingkat tinggi. Sebagai contoh: ibu mengajari anak mengenakan sepau dan celana, dan anak kelak dapat berbuat hal itu sendiri, itupun sudah masuk kebudayaan dan pembudayaan. Selanjutnya pembudayaan itu juga proses ke arah pembudayaan yang “berdikari” oleh anak itu sendiri sebagai manusia purnawan.
Pendidikan adalah pelaksanaan nilai-nilai. Pelaksanaan di sini adalah perjumpaan antara aktivitas pendidik dan aktivitas anak didik, jika ibu mengenakan pakaian kepada anak, maka di situ ibu melaksanakan nilai-nilai berpakaian kepada anak. Jika ibu mengajak berdoa, maka di situ ibu melaksanakan nilai-nilai kegamaan dan anak melaksanakan juga. Demikian pula halnya mengenai lain-lain bidang nilai. Dengan pelaksanaan itu anak berproses. Tetapi perlu diingat bahwa anak itu belum dapat berdiri sendiri. Dia melaksanakan dalam pelaksanaan bersama, terutama waktu masil kecil. Tetapi dengan melaksanakan nilai-nilai dalam keadaan tergantung itu, anak berproses ke pelaksanaan sendiri, sebagai manusia purnawan